Dua tentara Israel dilaporkan meninggal karena bunuh diri pada Kamis (22/10) malam, dalam selang waktu sekitar satu jam setelah ditugaskan di Jalur Gaza. Media berbahasa Ibrani menyebut keduanya mengalami krisis psikologis setelah terlibat dalam operasi militer di wilayah Palestina tersebut.
Satu tentara dilaporkan meninggal di Netanya, kota di utara Tel Aviv. Personel lainnya ditemukan meninggal di wilayah pendudukan Israel bagian selatan. Laporan yang dikutip CNN Indonesia tidak memuat identitas keduanya maupun rincian lebih lanjut mengenai penugasan mereka.
Peristiwa itu kembali menyoroti dampak perang terhadap kesehatan mental personel militer Israel. Sejumlah data yang dilaporkan media dan lembaga di negara itu menunjukkan meningkatnya kasus trauma, percobaan bunuh diri, serta kebutuhan layanan kesehatan mental di kalangan tentara.
Data menunjukkan tekanan mental di kalangan tentara
Dikutip Middle East Monitor (MEMO), berbagai studi di Israel mengaitkan perang dengan memburuknya kondisi psikologis tentara. Pada Januari, Kementerian Pertahanan Israel mencatat hampir 40 persen kasus gangguan stres pascatrauma atau PTSD di kalangan tentara terjadi sejak September 2023. Angka itu diperkirakan dapat meningkat hingga 180 persen pada 2028.
Kementerian yang sama melaporkan bahwa 60 persen dari 22.300 tentara atau personel yang menjalani perawatan akibat luka perang mengalami sindrom pascatrauma. Data tersebut menunjukkan bahwa dampak penugasan tidak hanya berwujud luka fisik, tetapi juga dapat berlanjut dalam bentuk masalah psikologis.
Temuan komite parlemen Israel yang dirilis pada Oktober mencatat 279 tentara mencoba bunuh diri selama periode Januari 2024 hingga Juli 2025. Laporan itu juga menyebut tentara tempur mencakup 78 persen dari seluruh kasus bunuh diri di Israel pada 2024. Risiko bunuh diri atau melukai diri sendiri dapat meningkat ketika trauma tidak ditangani, menurut laporan tersebut.
Media Israel Haaretz melaporkan jumlah tentara yang bunuh diri sepanjang tahun ini mencapai 21 orang. Jumlah itu nyaris dua kali lipat dibandingkan 12 kasus pada tahun sebelum agresi di Gaza.
Layanan kesehatan mental diperluas
Pemerintah Israel menyatakan telah memperluas layanan kesehatan bagi personel yang menghadapi masalah mental. Upaya yang dilaporkan mencakup penambahan anggaran dan peningkatan 50 persen dalam penggunaan pengobatan alternatif.
Maccabi, penyedia layanan kesehatan terbesar kedua di Israel, melaporkan 39 persen anggota militer yang mereka rawat mengalami masalah mental. Sebanyak 26 persen lainnya mencari informasi atau menyampaikan kekhawatiran terkait depresi. Data itu memperlihatkan besarnya kebutuhan dukungan, meski tidak semua orang yang mencari informasi atau khawatir mengalami diagnosis yang sama.
Angka-angka tersebut muncul di tengah berlanjutnya dampak operasi militer Israel di Gaza, yang dimulai pada Oktober 2023. Dalam operasi itu, Israel menyatakan menargetkan Hamas, membebaskan para sandera, dan melucuti senjata Hizbullah di Lebanon. Sementara itu, laporan yang dikutip CNN Indonesia menyebut lebih dari 72.000 warga Palestina tewas, ratusan ribu terluka, dan jutaan lainnya terpaksa mengungsi.
Serangan juga menghantam objek sipil, termasuk rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, dan kamp pengungsian, menurut laporan tersebut. Para spesialis kesehatan mental melaporkan warga Palestina mengalami trauma psikologis berat; anak-anak, antara lain, disebut kerap mengalami mimpi buruk dan kesulitan berkonsentrasi.
Dua laporan kematian tentara itu belum menjelaskan secara terperinci latar belakang psikologis masing-masing personel. Namun, data yang tersedia memperlihatkan bahwa kesehatan mental menjadi persoalan penting bagi mereka yang terlibat dalam perang. Besarnya angka trauma dan percobaan bunuh diri membuat kesinambungan layanan serta penanganan dini menjadi perhatian yang tidak bisa diabaikan.