Jejak materi genetik human papillomavirus (HPV) ditemukan pada sampel dari toilet, wastafel, dan gagang pintu di sejumlah fasilitas umum di China. Namun, temuan tersebut belum membuktikan bahwa seseorang dapat tertular HPV hanya karena menggunakan toilet umum. Penelitian itu mendeteksi keberadaan virus pada permukaan, sementara kemungkinan penularan melalui lingkungan masih memerlukan kajian lebih lanjut.
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, dr. Indri Yogyaswari, menyampaikan temuan tersebut dalam webinar Kementerian Kesehatan bersama Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCE), Kamis (29/10). Seperti dilaporkan CNN Indonesia, ia merujuk pada penelitian yang terbit pada 2025 dan mengambil sampel dari fasilitas publik di China.
Studi berjudul Monitoring the Presence of Human Papillomavirus in Public Areas Indicates Non-Sexual Transmission of the Virus and Environmental Risk itu memeriksa 360 sampel usap. Lokasi pengambilan meliputi toilet umum, pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit umum, serta rumah sakit obstetri dan ginekologi.
Materi HPV paling banyak ditemukan pada toilet jongkok
Para peneliti mengambil sampel dari tiga jenis permukaan: toilet jongkok, wastafel, dan gagang pintu. Pemeriksaan memakai metode real-time PCR untuk mendeteksi 23 genotipe HPV. Hasilnya, 87 dari 360 sampel atau 24,17 persen dinyatakan positif.
Angka itu merupakan gabungan seluruh sampel, bukan peluang seseorang tertular saat memakai fasilitas tersebut. Tingkat deteksi juga berbeda menurut permukaan dan lokasi. Jika keseluruhan lokasi penelitian dihitung, sampel dari toilet jongkok menunjukkan hasil positif sebesar 53,33 persen. Pada wastafel angkanya 14,17 persen, sedangkan pada gagang pintu 5 persen.
Indri menyebut angka yang lebih tinggi pada toilet jongkok di rumah sakit umum dan rumah sakit obstetri-ginekologi, masing-masing 73,33 persen. Rincian lokasi penting karena angka yang dikemukakan dalam webinar tidak selalu merujuk pada kelompok sampel yang sama. CNN Indonesia juga mengutip Indri yang menyebut angka 40 persen untuk wastafel dan sekitar 3,3 persen untuk pegangan pintu dalam pemaparan penelitian.
Karena itu, hasil penelitian perlu dibaca sesuai cakupannya. Sampel yang diperiksa berasal dari fasilitas tertentu di China, bukan survei seluruh toilet umum di negara tersebut, apalagi gambaran keadaan di Indonesia. Persentase positif pada usapan permukaan juga tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai persentase risiko penularan bagi pengunjung.
Deteksi di permukaan belum memastikan jalur penularan
Pemeriksaan PCR mencari materi genetik yang menjadi sasaran tes. Temuan positif menunjukkan bahwa materi HPV terdeteksi pada sampel usap. Akan tetapi, data yang disampaikan dalam penelitian itu belum menjelaskan bahwa virus pada setiap permukaan masih mampu menginfeksi, atau bahwa kontak dengan permukaan tersebut menyebabkan infeksi pada seseorang.
Indri menyampaikan bahwa sampel dari kamar mandi umum ditemukan positif HPV. Namun, keberadaan materi virus pada permukaan bukan bukti langsung bahwa toilet merupakan jalur penularan yang telah dipastikan. Peneliti sendiri, sebagaimana dirujuk dalam pemberitaan CNN Indonesia, masih memerlukan kajian lanjutan untuk menilai kemungkinan penularan nonseksual melalui lingkungan.
Ketua Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas PP KIPI), Hindra Irawan Satari, mengingatkan bahwa anggapan mengenai penularan HPV tidak sebaiknya dibatasi pada satu kemungkinan saja. Dalam webinar itu, ia menyebut permukaan seperti tutup kloset sebagai salah satu kemungkinan yang perlu diperhatikan. Pernyataan tersebut tetap perlu dibedakan dari bukti bahwa penggunaan toilet umum pasti menyebabkan infeksi.
HPV mencakup banyak tipe. Sebagian dapat menyebabkan kutil, sementara tipe berisiko tinggi dapat memicu perubahan sel yang berkembang menjadi kanker, termasuk kanker serviks atau kanker leher rahim. Karena itu, temuan pada permukaan fasilitas umum tidak mengubah perlunya memahami pencegahan berdasarkan bukti, termasuk perlindungan melalui imunisasi HPV terhadap tipe virus tertentu.
Vaksinasi tidak terbukti mendorong perilaku seksual berisiko
Dalam kesempatan yang sama, Hindra juga menanggapi anggapan bahwa vaksin HPV membuat penerimanya lebih leluasa berganti pasangan. Ia mengatakan tidak ada data Indonesia maupun laporan global yang menunjukkan peningkatan perilaku tersebut setelah vaksin HPV diberikan. Menurut Hindra, ratusan juta dosis telah diberikan di dunia tanpa tren peningkatan yang dilaporkan dalam kaitan dengan program imunisasi.
Temuan penelitian China sebaiknya dipahami sebagai petunjuk untuk meneliti lebih jauh keberadaan HPV di ruang publik, bukan alasan untuk menyimpulkan setiap pengguna toilet umum berisiko tertular. Hasil penelitian itu juga tidak menggantikan informasi mengenai vaksinasi. Kajian lanjutan diperlukan untuk memastikan apakah materi yang terdeteksi pada permukaan memiliki kaitan dengan penularan kepada manusia.