Vietnam memperkuat akses layanan kesehatan mental dengan mendorong deteksi dini, intervensi lebih cepat, dan dukungan berkelanjutan di tengah masyarakat. Upaya ini penting karena masalah kesehatan mental dapat memengaruhi kesehatan, pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, hingga kualitas hidup seseorang.
Gangguan mental bukan hanya persoalan orang dengan kondisi berat. Tekanan akademis, stres di tempat kerja, konflik hubungan, trauma, kekerasan, dan kesepian juga dapat mengganggu kesejahteraan psikologis. Tanpa penanganan dan dukungan yang memadai, masalah tersebut berisiko berlarut-larut dan berdampak pada kehidupan sehari-hari.
Kementerian Kesehatan Vietnam memperkirakan sekitar 14,9 persen penduduk—hampir 15 juta orang—mengalami setidaknya satu dari 10 gangguan mental yang umum. Depresi tercatat sebesar 2,8 persen, gangguan kecemasan 2,6 persen, skizofrenia 0,4 persen, sementara penyalahgunaan zat diperkirakan mencapai 4–5 persen.
Stigma dan gejala tersembunyi menghambat perawatan
Besarnya angka tersebut memperlihatkan kebutuhan akan layanan yang mudah dijangkau. Namun, banyak orang belum terdeteksi atau belum memperoleh bantuan tepat waktu. Gangguan psikologis, emosional, dan perilaku kerap berkembang tanpa tanda yang mudah dikenali, berbeda dengan sejumlah penyakit fisik yang memiliki gejala lebih jelas.
Dalam sejumlah kasus, orang yang mengalami masalah mungkin belum menyadari kondisinya. Keluarga pun dapat menganggap perubahan perilaku sebagai kelelahan atau stres biasa. Ketika masalah tidak dibicarakan, kesempatan untuk mengenali kebutuhan dan mencari bantuan profesional sejak awal ikut tertunda.
Rasa malu dan kekhawatiran terhadap stigma juga membuat sebagian orang memilih diam. Karena itu, membangun lingkungan yang aman untuk bercerita menjadi bagian penting dari perawatan. Pasien perlu dapat menyampaikan pengalaman dan kesulitannya tanpa takut dihakimi.
Dokter di Rumah Sakit Jiwa My Duc menilai keterbukaan pasien membantu tenaga medis memahami kondisi dengan lebih baik. Informasi yang disampaikan pasien dapat menjadi bahan untuk menentukan intervensi yang sesuai. Perawatan, dalam pendekatan ini, tidak berhenti pada pengendalian gejala, tetapi juga membantu mempertahankan fungsi, memulihkan kemampuan beradaptasi, dan mendukung pasien kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Dukungan komunitas memperluas akses kesehatan mental
Pesan tentang pentingnya mendengarkan pengalaman pasien tercermin dalam tema Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober 2026 yang dipilih Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni “Mendengarkan Pengalaman: Suara Otentik, Perubahan Nyata.” Tema itu menempatkan suara pasien sebagai sumber untuk mengenali hambatan dalam pengobatan, rehabilitasi, dan reintegrasi sosial.
Pengalaman pasien juga dapat menjadi masukan bagi sektor kesehatan untuk memperbaiki kebijakan, layanan, dan metode perawatan. Dengan demikian, layanan tidak hanya dirancang berdasarkan kebutuhan fasilitas kesehatan, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman orang yang mengaksesnya.
Untuk mendekatkan bantuan kepada masyarakat, layanan profesional perlu terhubung dengan fasilitas kesehatan, komunitas setempat, dan keluarga. Koordinasi tersebut dapat membantu pasien memperoleh dukungan secara berkala, bukan hanya datang berobat ketika kondisinya sudah memburuk. Keluarga dan lingkungan juga dapat berperan dalam mengenali perubahan serta mendampingi proses perawatan.
Laporan Vietnam.vn mencantumkan kegiatan di Hanoi pada September 2026 sebagai salah satu contoh pendekatan berbasis masyarakat. Pusat Perawatan dan Rehabilitasi Kesehatan Mental Hanoi No. 1 disebut berkoordinasi mengadakan pemeriksaan kesehatan mental dan konsultasi kebijakan di lima kecamatan: Kieu Phu, Van Dinh, Hong Son, Da Phuc, dan Chuong Duong. Program tersebut mencakup pemeriksaan khusus, penilaian awal kondisi kesehatan mental, serta panduan prosedur untuk memperoleh manfaat kesejahteraan sosial bagi 433 rumah tangga.
Pendampingan berlanjut setelah pemeriksaan awal
Kegiatan itu juga mencakup bimbingan bagi pasien dan keluarga mengenai pengelolaan perilaku, perawatan yang aman, serta dukungan di rumah dan lingkungan sekitar. Informasi tentang prosedur pengobatan, rehabilitasi, dan layanan perawatan terpusat turut disampaikan kepada warga.
Menurut laporan tersebut, pendampingan tidak berhenti setelah skrining. Pusat itu terus berkoordinasi dengan departemen khusus dan pos kesehatan di lima kecamatan untuk meninjau kasus berat atau berisiko tinggi, menyusun catatan pengelolaan, serta memberikan arahan mengenai prosedur penerimaan dan perawatan sesuai ketentuan.
Model seperti ini menekankan kesinambungan: pemeriksaan awal menjadi pintu masuk, sementara tindak lanjut membantu memastikan kebutuhan pasien tidak terabaikan. Perluasan layanan profesional, komunikasi yang terbuka, dan keterlibatan keluarga dapat mengurangi jarak antara warga dan bantuan yang dibutuhkan. Tantangan berikutnya adalah memastikan dukungan tersebut dapat diakses secara konsisten, sehingga mencari pertolongan kesehatan mental menjadi bagian wajar dari upaya menjaga kesehatan.