Sepasang sepatu Nike yang dibeli di Manhattan, New York, pada 2018 menjadi penanda persahabatan panjang Egy Massadiah dengan Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. Kenangan itu kembali mengemuka setelah Presiden Prabowo Subianto memberi Maruli tugas baru sebagai Wakil Panglima TNI sekaligus Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Daerah Terpencil (BNPPDT).
Bagi Egy, sepatu tersebut bukan sekadar barang pemberian. Benda itu mengingatkannya pada perhatian seorang sahabat dan perjalanan Maruli, yang kini menerima tanggung jawab pengabdian lebih luas di wilayah perbatasan serta daerah terpencil.
Sepatu kasual berwarna hitam dengan corak loreng cokelat pekat itu menemani langkah Egy selama sekitar enam tahun. Meski sudah dipensiunkan pada 2024 karena solnya aus, kenangan di balik pemberian tersebut tetap lekat baginya.
Awal kisah sepatu Nike dari Manhattan
Peristiwa itu bermula pada akhir September 2018. Egy dan Maruli berada di New York bersama rombongan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Maruli ketika itu menjabat Wakil Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Wadanpaspampres) dan mendampingi rombongan. Di sela agenda, ia dan Egy berjalan kaki di kawasan 42nd Street, dekat Hotel Westin, lalu mampir ke sebuah toko perlengkapan olahraga.
Di toko itulah Maruli membelikan Egy sepatu Nike. Egy sempat melontarkan kelakar bahwa hadiah tersebut berasal dari gaji pertama Maruli setelah menyandang pangkat brigadir jenderal.
“Jadilah saya ikut menikmati gaji pertama sang jenderal ini,” tulis Egy dalam kesaksiannya tentang persahabatan mereka.
Ucapan itu menyimpan nada akrab yang tumbuh dari hubungan lama keduanya. Sepatu tersebut memang memiliki nilai guna, tetapi bagi Egy, maknanya melampaui fungsi sehari-hari: ada perhatian sahabat yang tertinggal di dalamnya, bahkan setelah barang itu tak lagi dipakai.
Persahabatan sejak Maruli berpangkat letnan dua
Egy mengenal Maruli jauh sebelum mereka berjalan bersama di Manhattan. Saat itu, Maruli masih berpangkat letnan dua. Keduanya dipertemukan melalui latihan judo, yang kemudian menjadi salah satu awal kedekatan mereka.
Hubungan itu semakin erat ketika mereka mengikuti pemusatan latihan judo yang digagas Prabowo Subianto saat memimpin Kopassus. Dalam kegiatan tersebut, hadir pula Prof. Lee dari Korea Selatan.
Kenangan di New York, dengan demikian, merupakan satu bagian dari persahabatan yang telah berlangsung sejak masa awal karier Maruli. Perjalanan dinas ke Amerika Serikat mempertemukan mereka dalam suasana berbeda, tetapi kedekatan yang sudah terbangun sebelumnya membuat momen sederhana seperti mampir ke toko olahraga menjadi cerita yang bertahan lama.
Enam tahun pemakaian sepatu itu juga memberi kisah tersebut rentang waktu yang nyata. Sol yang aus menjadi alasan Egy berhenti mengenakannya sekitar 2024, namun bukan berarti pemberian itu kehilangan tempat dalam ingatannya. Yang bertahan justru cerita tentang siapa yang membelinya dan bagaimana persahabatan mereka terbentuk.
Tugas baru Maruli di TNI dan BNPPDT
Penugasan baru Maruli memberi kenangan personal itu konteks yang lebih luas. Sebagai Wakil Panglima TNI sekaligus Kepala BNPPDT, ia disebut mengemban amanah yang berhubungan dengan pengelolaan perbatasan dan daerah terpencil.
Bagi Egy, penugasan tersebut membawa Maruli ke medan pengabdian yang lebih luas: memastikan kehadiran negara semakin dirasakan masyarakat di wilayah perbatasan dan daerah terpencil. Pandangan itu menempatkan tugas barunya bukan hanya sebagai perubahan jabatan, melainkan juga tanggung jawab terhadap kawasan yang menjadi perhatian lembaga tersebut.
Kisah sepatu dari Manhattan memperlihatkan sisi lain dari seorang jenderal yang kini menjalani peran baru. Di balik pangkat dan jabatan, ada hubungan personal yang tumbuh sejak masa berpangkat letnan dua, serta perhatian kecil yang terus dikenang bertahun-tahun kemudian.
Bagi Egy, sepatu itu mungkin sudah tak lagi menempuh perjalanan. Namun cerita yang dibawanya tetap berjalan bersama perjalanan karier Maruli. Tugas baru di perbatasan dan daerah terpencil kini menjadi bab berikutnya dalam pengabdian sang jenderal, sementara kenangan persahabatan mereka tetap tersimpan dalam sebuah benda yang pernah dibeli di Manhattan.