Berita Untuk Kita dan Semua Hari Ini

Kesehatan

Protein Hewani dan Perannya bagi Otak Anak

Protein hewani dari susu, daging, dan telur berperan dalam mendukung perkembangan otak serta pertumbuhan fisik anak. Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, mengingatkan bahwa kecukupan gizi sejak masa kanak-kanak merupakan salah satu fondasi penting untuk membangun sumber daya manusia yang sehat dan produktif.

Menurut Ronny, pemenuhan gizi tidak bisa dinilai hanya dari apakah anak sudah merasa kenyang. Makanan yang mengenyangkan belum tentu menyediakan seluruh zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh dan berkembang.

Ia mencontohkan nasi yang dapat membuat anak kenyang dalam waktu singkat. Namun, kebutuhan tubuh terhadap protein dan zat gizi lain tetap perlu diperhatikan, terutama pada masa pertumbuhan.

“Tidak ada yang menyangkal bahwa nasi bisa membuat anak-anak kita kenyang dan berhenti menangis hari ini. Namun, dalam 20 tahun ke depan, susu, daging, dan telur akan membantu anak-anak kita menjadi lebih cerdas serta memiliki fisik yang sehat dan berkualitas,” ujar Ronny.

Asam amino esensial dalam protein hewani

Tubuh manusia membutuhkan 20 jenis asam amino. Sembilan di antaranya merupakan asam amino esensial yang tidak dapat diproduksi sendiri, sehingga harus diperoleh dari makanan dan minuman.

Ronny menjelaskan, kualitas sumber protein perlu menjadi perhatian karena komposisi asam amino pada setiap bahan pangan tidak sama. Protein hewani dari susu, daging, dan telur disebut sebagai sumber protein lengkap karena menyediakan seluruh asam amino esensial dalam satu hidangan.

Ia tidak menampik bahwa tahu dan tempe juga merupakan sumber protein. Namun, menurut dia, kandungan asam amino esensialnya tidak selengkap sumber protein hewani tersebut. Penjelasan ini menegaskan bahwa rasa kenyang maupun jumlah makanan yang dikonsumsi tidak otomatis menggambarkan kecukupan gizi.

Perhatian terhadap kebutuhan protein, kata Ronny, semakin penting pada awal kehidupan. Pada periode ini, tubuh anak berkembang dan kebutuhan zat gizi perlu tercukupi agar proses pertumbuhan berlangsung dengan baik.

Masa awal kehidupan penting bagi perkembangan otak

Ronny menyebut usia 0 hingga 5 tahun sebagai masa penting dalam pembentukan otak. Ia mengatakan otak tumbuh sebesar 80 persen pada fase tersebut, sehingga pemenuhan gizi, termasuk protein hewani, perlu mendapat perhatian.

“Perlu dipahami bahwa golden age untuk membentuk otak yang berkualitas adalah usia 0 sampai dengan 5 tahun karena pada fase ini otak tumbuh sebesar 80%. Tanpa protein hewani yang cukup pada fase ini, sel otak tidak akan dapat terbentuk secara optimal,” jelasnya.

Setiap jenis produk ternak juga menyumbang zat gizi yang berbeda. Telur, selain mengandung protein lengkap, menyediakan kolin, lutein, dan DHA. Daging menjadi sumber zat besi, zink, serta vitamin B12, sedangkan susu mengandung kalsium, fosfor, dan protein yang mendukung pertumbuhan tulang.

Ragam kandungan tersebut menunjukkan bahwa protein hewani tidak hanya berkaitan dengan satu fungsi. Zat besi, misalnya, diperlukan tubuh, sementara zink berperan dalam pertumbuhan. Vitamin B12 turut dibutuhkan dalam proses penting, termasuk perkembangan sistem saraf dan otak.

Dampak gizi dapat terbawa hingga dewasa

Menurut Ronny, dampak persoalan gizi pada masa anak-anak dapat berlanjut hingga mereka dewasa. Anemia, kurang fokus, serta kondisi kesehatan yang tidak optimal dapat menghambat kemampuan belajar dan produktivitas. Karena itu, pemenuhan gizi anak juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.

Ia mengingatkan, bonus demografi tidak akan memberi manfaat maksimal apabila generasi yang tumbuh tidak memiliki kesehatan dan produktivitas yang baik. Kecukupan protein dan zat gizi, dalam pandangannya, merupakan bagian dari upaya menyiapkan generasi yang mampu belajar, bekerja, dan berkembang.

Ronny menilai susu, daging, dan telur sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai pilihan untuk menghilangkan lapar. Konsumsi pangan tersebut, menurut dia, berkaitan dengan upaya mendukung pertumbuhan anak serta membangun kualitas manusia.

Pesan itu menempatkan perhatian pada gizi sebagai investasi sejak dini, bukan semata urusan menu harian. Pemenuhan kebutuhan anak pada masa pertumbuhan perlu terus menjadi perhatian keluarga dan masyarakat, seiring upaya membangun generasi yang sehat dan produktif.

Beritakita