Berita Untuk Kita dan Semua Hari Ini

Kesehatan

Pneumonia pada Lansia: Kenali Risiko dan Tanda Bahayanya

Pneumonia pada lansia perlu diwaspadai karena infeksi paru ini dapat menjadi ancaman serius, terutama ketika disertai penyakit penyerta. Namun, pemahaman masyarakat tentang pneumonia pneumokokus masih rendah. Survei YouGov yang dipaparkan dalam kampanye edukasi Pfizer Indonesia menunjukkan, banyak orang belum mengenal penyakit tersebut dengan baik.

Survei itu mendapati 41 persen orang dewasa di Indonesia belum pernah mendengar istilah pneumonia pneumokokus. Sebanyak 44 persen mengaku pernah mendengarnya, tetapi tidak memahami kondisi medisnya. Hanya 15 persen responden yang mengenal sekaligus memahami penyakit tersebut secara tepat.

Temuan itu menjadi perhatian dalam kampanye “Lindungi Napasmu Jaga Momen Berarti”, yang mempertemukan dokter spesialis, dokter keluarga, pasien, dan caregiver di Jakarta. Edukasi dinilai penting agar keluarga dapat mengenali risiko serta perubahan kondisi kesehatan orang tua lebih dini.

Pneumonia berbeda dari flu

Pneumonia pneumokokus merupakan infeksi paru yang disebabkan bakteri Streptococcus pneumoniae. Penyakit ini berbeda dari flu, meskipun keduanya menyerang saluran pernapasan. Flu umumnya disebabkan virus, sementara pneumonia dapat dipicu berbagai mikroorganisme.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi, dr. Joyce Bratanata, menjelaskan pneumonia merupakan infeksi pada saluran napas bagian bawah. Penyebabnya dapat berupa bakteri, virus, maupun jamur.

“Kalau pneumonia, itu ada disebabkan oleh mikroba. Mikroba itu bisa bakteri penyebabnya, bisa virus, bisa jamur. Ya itu tiga yang utama,” ujar Joyce dalam diskusi kampanye tersebut.

Meski perbedaannya cukup mendasar, pemahaman publik masih belum utuh. Dalam survei YouGov, 20 persen responden setuju pneumonia pada dasarnya sama dengan flu, sedangkan 48 persen memilih jawaban netral. Angka itu menunjukkan masih banyak orang yang belum memiliki pengetahuan yang jelas mengenai penyakit ini.

Infeksi saluran pernapasan akut juga dapat berkembang menjadi pneumonia. Karena itu, Joyce mengingatkan keluarga untuk memperhatikan keluhan pada orang tua, terutama ketika gejala tidak membaik atau kondisi justru semakin menurun.

Lansia dengan komorbid lebih rentan

Risiko pneumonia pada usia lanjut tidak hanya berkaitan dengan penyakit paru-paru. Lansia kerap memiliki satu atau lebih penyakit penyerta, seperti diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, asma, hingga riwayat stroke. Kondisi-kondisi tersebut perlu menjadi bagian dari perhatian keluarga ketika memantau kesehatan orang tua.

Menurut survei, 42 persen responden menyebut orang dengan penyakit paru-paru sebagai kelompok yang berisiko mengalami pneumonia serius. Sebaliknya, hanya 11 persen yang menyebut orang dengan penyakit jantung dan 9 persen yang mengaitkan risiko tersebut dengan diabetes. Responden lebih banyak menghubungkan pneumonia berat dengan gangguan paru yang sudah ada.

Joyce mengatakan lansia berusia 60 tahun ke atas yang memiliki diabetes, asma, penyakit kardiovaskular, atau riwayat stroke perlu lebih diperhatikan. Kelompok dengan kondisi imunitas terganggu juga perlu waspada. Kebiasaan merokok dan paparan asap rokok turut disebut sebagai faktor yang dapat meningkatkan kejadian pneumonia.

Perhatian keluarga penting karena banyak orang dewasa terlibat langsung dalam perawatan orang tua. Survei tersebut mencatat 55 persen orang dewasa di Indonesia rutin merawat orang tua atau anggota keluarga yang lebih tua. Bentuk pendampingannya beragam, mulai dari mengantar ke dokter hingga membantu mengatur konsumsi obat dan mengambil keputusan terkait kesehatan.

Perhatikan perubahan napas dan kesadaran

Batuk yang berlangsung beberapa hari dan tidak membaik sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter, terlebih bila disertai demam atau tubuh semakin lemas. Pada lansia, tanda yang terlihat sederhana dapat menjadi penting jika muncul bersamaan atau terus memburuk.

Joyce meminta keluarga memperhatikan perubahan seperti napas yang terasa lebih berat, lebih banyak tidur, atau kondisi tubuh yang semakin lesu. Ia menyebut, bila lansia tidak menunjukkan perbaikan dalam tiga sampai empat hari, keluarga perlu lebih cermat mengamati kondisinya.

“Kita perhatikan 15 menit sampai 20 menit diajak bicara, napasnya kayak agak ngos-ngosan,” kata Joyce.

Penurunan saturasi oksigen juga dapat disertai perubahan kesadaran. Lansia yang mengantuk, tampak bengong, atau berbicara tidak nyambung perlu segera diperiksa. Perubahan cara berbicara—misalnya tampak harus berusaha lebih keras untuk menarik napas—juga menjadi hal yang patut diperhatikan.

Keluarga tidak perlu menunggu kondisi orang tua memburuk untuk mulai memperhatikan kesehatannya. Pemeriksaan berkala dan komunikasi dengan dokter dapat membantu keluarga memahami kondisi tubuh lansia, termasuk sebelum keluhan tampak jelas. Dengan mengenali faktor risiko dan perubahan yang terjadi, keluarga dapat mengambil langkah pemeriksaan lebih cepat saat ada sesuatu yang tidak biasa.

Beritakita