Jusuf Hamka menyatakan siap menggelontorkan dana sekitar Rp5 triliun bersama konsorsium untuk membeli saham empat bank besar: BRI, Mandiri, BNI, dan BCA. Rencana itu muncul saat harga saham perbankan tersebut terkoreksi tajam dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan batas auto rejection bawah (ARB) asimetris sebesar 7 persen.
Hamka, yang dikenal dengan sapaan Babah Alun dan merupakan anggota Dewan Pertimbangan Presiden, menilai pelemahan harga menjadi kesempatan untuk mengakumulasi saham. Namun, dana jumbo yang disebutkan itu masih berupa rencana. Informasi yang tersedia belum merinci waktu pembelian maupun pembagian alokasi dana untuk setiap saham.
Empat saham bank jadi sasaran konsorsium
Saham yang masuk dalam rencana pembelian ialah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Hamka menilai saham keempat bank tersebut sedang ditawarkan dengan harga diskon.
“Ini kesempatan terbaik untuk belanja saham dengan harga diskon. Saham empat bank jarang-jarang ngasih diskon gede. Bahkan, keuntungan dari dividen yang diberikan empat bank itu lebih menggiurkan daripada deposito,” ujar Babah Alun.
Pemilik emiten jalan tol Citra Marga Nusaphala (CNMP) itu menyebut dividen sebagai salah satu pertimbangan dalam melihat daya tarik saham-saham tersebut. Pernyataannya juga menempatkan pembelian sebagai upaya memanfaatkan penurunan harga, bukan keterangan bahwa transaksi telah selesai dilakukan.
Rencana itu menjadi sorotan karena pasar sedang berada dalam tekanan. Perhatian tertuju pada apakah dana yang disiapkan bersama konsorsium dapat menahan pelemahan IHSG atau membantu menopang saham-saham bank yang menjadi sasaran akumulasi. Belum ada kepastian mengenai dampak yang akan ditimbulkan rencana tersebut terhadap pergerakan pasar.
Harga BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA terkoreksi
Pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, BMRI turun 14,82 persen atau 590 poin ke Rp3.390. BBRI melemah 14,84 persen atau 460 poin menjadi Rp2.640. Pada hari yang sama, BBNI terkoreksi 12,90 persen atau 440 poin ke Rp2.970, sedangkan BBCA turun 14,81 persen atau 900 poin menjadi Rp5.175.
Besarnya koreksi tersebut memperlihatkan tekanan yang dialami keempat saham. Meski begitu, rencana pembelian Rp5 triliun belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa harga akan berbalik naik. Besar kemungkinan pengaruhnya terhadap pasar baru bisa dinilai setelah rincian pelaksanaan dan transaksi benar-benar diketahui.
BEI mengubah batas ARB efek bersifat ekuitas menjadi asimetris 7 persen. Kebijakan itu disebut ditempuh untuk menjaga perdagangan tetap teratur, wajar, dan efisien serta mengendalikan volatilitas. Keputusan tersebut mendapat dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Simulasi harga jika saham terkena ARB 7 persen
Perubahan batas ARB turut memengaruhi simulasi harga apabila saham-saham tersebut kembali terkena batas penurunan. Dengan acuan harga yang dicantumkan, perkiraan harga pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026, masing-masing adalah Rp4.812 untuk BBCA, Rp2.455 untuk BBRI, Rp3.153 untuk BMRI, dan Rp2.760 untuk BBNI.
Angka itu merupakan hitungan jika saham terkait kembali menjalani ARB, bukan harga yang dipastikan terjadi. Batas 7 persen membuat ruang penurunan harian berbeda dari situasi ketika batas ARB berada di level 15 persen. Karena itu, pembicaraan soal “harga diskon” tetap perlu dibaca bersama perubahan aturan dan pergerakan saham di pasar.
Untuk saat ini, dua hal menjadi perhatian: seberapa jauh tekanan pada saham perbankan berlanjut dan kapan rencana konsorsium Hamka mulai direalisasikan. Jika pembelian benar-benar dilakukan, perkembangan transaksi dan respons pasar akan menjadi penentu apakah langkah tersebut memberi dukungan pada saham incaran maupun IHSG.