Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melihat pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga berada di bawah level 5.000 sebagai peluang investasi jangka panjang. CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, lembaganya membuka kemungkinan masuk ke pasar saham secara bertahap, terutama pada emiten dengan fundamental kuat dan valuasi yang dinilai menarik.
Rosan menyampaikan pandangan itu usai mengikuti rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10/2026). Menurut dia, penurunan harga saham perlu dilihat bersama kondisi perusahaan yang mendasarinya, bukan semata-mata sebagai sinyal untuk menghindari pasar.
Danantara nilai koreksi IHSG sebagai peluang
Hasil evaluasi Danantara, kata Rosan, menunjukkan perusahaan-perusahaan yang berada di bawah naungannya memiliki kondisi yang solid. Pada saat yang sama, koreksi pasar membuat valuasi sejumlah saham menjadi lebih murah. Kombinasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan Danantara dalam menilai peluang investasi.
“Kita sebagai investor, baik di pasar modal maupun BUMN yang kita miliki, kita justru melihat ini adalah opportunity untuk kita investasi jangka panjang,” ujar Rosan. Ia menegaskan bahwa peluang tersebut tetap perlu ditimbang dengan cermat, terutama terkait kekuatan usaha dan prospek perusahaan dalam jangka panjang.
Dengan pendekatan itu, penurunan harga tidak otomatis membuat suatu saham layak dibeli. Danantara akan lebih dulu menilai apakah harga yang tersedia sejalan dengan kualitas perusahaan dan fondasi bisnisnya. Rosan menyebut, selama valuasi dinilai menarik dan dasar perusahaan BUMN tetap kuat, kesempatan untuk berinvestasi dapat dipertimbangkan.
Saham perbankan dan valuasi di bawah nilai buku
Sektor perbankan menjadi salah satu contoh yang disampaikan Rosan. Ia mengatakan rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) sejumlah saham perbankan telah berada di bawah satu kali. Rasio tersebut membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan; angka di bawah satu kali menunjukkan harga pasar berada di bawah nilai bukunya.
Menurut Rosan, kondisi valuasi itu hadir ketika fundamental perbankan nasional dinilai relatif sehat. Ia juga menyoroti potensi pembagian dividen sebagai pertimbangan bagi investor. Dalam keterangannya, Rosan menyebut imbal hasil dividen saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sekitar 16 persen dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sekitar 13 persen.
Imbal hasil dividen, menurut Rosan, dapat memberi potensi pendapatan bagi investor tanpa sepenuhnya bergantung pada kenaikan harga saham. Namun, angka tersebut merupakan contoh yang ia sampaikan, bukan jaminan bahwa investor akan menerima hasil yang sama pada masa mendatang. Keputusan investasi tetap bergantung pada penilaian terhadap masing-masing saham.
Investasi akan dilakukan secara bertahap
Rosan menegaskan bahwa rencana masuk ke pasar tidak berarti Danantara akan membeli saham secara serentak atau tanpa seleksi. Setiap peluang akan melewati kajian menyeluruh, termasuk analisis fundamental, teknikal, dan persepsi pasar. Danantara juga akan memperhatikan daya tarik valuasi serta kekuatan perusahaan yang menjadi sasaran.
“Kita melihat ini sebagai analisa secara komprehensif, ini adalah kesempatan untuk kita masuk secara bertahap,” kata Rosan. Ia kembali menyatakan bahwa saham yang dipilih harus lebih dulu dianalisis. Dengan demikian, strategi bertahap akan disesuaikan dengan hasil kajian, bukan hanya dengan pergerakan IHSG.
Pernyataan Danantara menunjukkan bahwa lembaga tersebut tidak memandang koreksi pasar sebagai alasan tunggal untuk mengambil keputusan. Bagi investor, perkembangan selanjutnya akan bergantung pada hasil analisis atas perusahaan dan kondisi valuasinya. Danantara belum merinci saham mana yang akan dibeli maupun waktu pelaksanaan investasinya; Rosan hanya memastikan peluang akan dilihat secara bertahap setelah melalui evaluasi.