Investor PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menanti pembagian dividen setelah perusahaan menjual saham Kestrel di Australia. Nilai Rp2.550 per saham dengan imbal hasil sekitar 23 persen beredar sebagai perkiraan, tetapi angka tersebut belum dapat diperlakukan sebagai keputusan resmi perusahaan.
Investor.id melaporkan, pasar memperkirakan dividen besar itu seiring aksi penjualan Kestrel. Namun, laporan yang tersedia belum memuat kepastian mengenai besaran pembayaran, tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak, maupun jadwal pencairan. Dengan demikian, angka yang beredar masih perlu dibedakan dari pengumuman resmi AADI.
Perhatian terhadap dividen juga ditopang oleh kondisi usaha perusahaan. Sucor Sekuritas menilai saham AADI menarik karena prospek pembagian dividen, potensi laba bersih, dan harga batu bara. Perusahaan disebut memiliki struktur biaya rendah sebagai salah satu pemain batu bara termal Indonesia.
Harga batu bara melampaui asumsi 2026
Salah satu dasar pandangan Sucor adalah harga batu bara ICI-3 yang tercatat US$99 per ton. Angka itu berada di atas proyeksi harga jual rata-rata atau ASP AADI untuk 2026 sebesar US$71 per ton. Selisih tersebut memberi ruang bagi kinerja laba yang lebih tinggi dari perkiraan awal, menurut analisis sekuritas itu.
Sucor memproyeksikan laba bersih AADI sebesar US$884 juta. Jika harga komoditas bertahan di atas asumsi yang digunakan dalam proyeksi tersebut, perusahaan berpeluang mencatat laba lebih besar. Namun, laporan Investor.id tidak menyebut perhitungan terbaru ataupun besaran perubahan laba yang mungkin terjadi. Karena itu, angka US$884 juta tetap perlu dibaca sebagai proyeksi, bukan hasil yang sudah dibukukan.
Harga ICI-3 sebesar US$99 per ton juga bukan jaminan bahwa pendapatan perusahaan akan mengikuti kenaikan dengan besaran yang sama. Investor.id tidak merinci volume penjualan, harga jual aktual AADI, atau faktor lain yang digunakan untuk menghitung laba. Data yang disampaikan Sucor memberi gambaran bahwa asumsi harga batu bara menjadi salah satu penopang utama penilaian terhadap prospek perusahaan.
Posisi kas menjadi penopang pandangan analis
Sucor turut menyoroti neraca AADI yang dinilai solid. Perusahaan disebut berada dalam posisi net cash, yakni kasnya lebih besar daripada kewajiban utang bersih. Kondisi ini menjadi salah satu alasan yang mendasari optimisme sekuritas terhadap kemampuan AADI menghasilkan laba dan membagikan dividen.
“Laba kuat ini dicetak bersamaan dengan neraca solid, di mana perseroan berada di posisi net cash,” tulis Sucor Sekuritas, dikutip Investor.id pada Senin (26/10/2026).
Posisi kas tersebut memberi konteks bagi ekspektasi dividen, tetapi tidak dengan sendirinya memastikan nilai pembayaran. Jumlah yang dapat dibagikan juga harus ditetapkan perusahaan. Dalam informasi yang dimuat Investor.id, belum ada keterangan bahwa AADI telah mengesahkan dividen Rp2.550 per saham atau memastikan imbal hasil 23 persen.
Imbal hasil dividen menggambarkan perbandingan nilai dividen dengan harga saham. Karena itu, angka persentase dapat berubah mengikuti harga saham, sekalipun perkiraan nilai pembayaran tidak berubah. Investor yang menggunakan angka 23 persen sebagai dasar keputusan perlu memperhatikan bahwa nilai tersebut masih berupa ekspektasi pasar sebagaimana tersirat dalam pemberitaan, bukan kepastian pembayaran.
Investor menunggu pengumuman perusahaan
Penjualan saham Kestrel menjadi pemicu perhatian pada potensi pembagian dividen AADI. Meski begitu, bahan pemberitaan yang tersedia tidak merinci nilai transaksi penjualan tersebut ataupun berapa bagian hasilnya yang akan dialokasikan untuk pemegang saham. Tanpa informasi itu, hubungan antara aksi divestasi dan angka dividen yang beredar belum dapat dihitung secara pasti.
Bagi pemegang saham, perkembangan berikutnya yang paling menentukan adalah pengumuman resmi AADI mengenai besaran dividen dan jadwalnya. Sampai ada keputusan tersebut, Rp2.550 per saham dan yield 23 persen sebaiknya diperlakukan sebagai perkiraan, sementara proyeksi laba US$884 juta dan asumsi harga batu bara tetap menjadi dasar pandangan Sucor Sekuritas.