Berita Untuk Kita dan Semua Hari Ini

Kesehatan

Cooling Spray Belum Terbukti Menghentikan Kram Otot

Cooling spray kerap dicari ketika pelari mengalami kram, terutama saat betis mulai menegang di tengah aktivitas. Sensasi dingin setelah semprotan digunakan bisa memberi kesan bahwa otot sedang ditangani. Namun, dokter spesialis kedokteran olahraga Maria Lestari mengatakan belum ada bukti ilmiah kuat bahwa spray semacam itu dapat menghentikan kontraksi otot yang sedang kram.

Menurut Maria, penanganan awal yang lebih dianjurkan adalah menghentikan aktivitas untuk sementara, lalu meregangkan otot yang kram secara perlahan dengan peregangan statis. Kondisi pelari juga perlu dievaluasi. Artinya, penggunaan spray bukan pengganti langkah awal tersebut, terlebih jika tujuannya hanya agar pelari bisa segera kembali berlari.

Topik ini dekat dengan pelari rekreasional, termasuk mereka yang kerap disebut pelari kalcer. Dalam situasi perlombaan atau aktivitas lari, tim medis bisa menjadi tempat pelari meminta bantuan ketika kram muncul. Anggapan bahwa semprotan dingin merupakan obat kram berisiko membuat pelari terlalu bergantung pada produk itu, padahal manfaatnya untuk menghentikan kram belum terbukti kuat.

Rasa dingin bukan bukti kram berhenti

Efek dingin yang dirasakan setelah produk disemprotkan tidak serta-merta berarti kontraksi otot telah berhenti. Maria menjelaskan, sampai saat ini belum ada bukti ilmiah kuat yang mendukung cooling spray sebagai cara untuk menghentikan kram. Karena itu, sensasi pada kulit tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk menilai apakah pelari sudah aman melanjutkan aktivitas.

Informasi tersebut disampaikan Maria kepada detikHealth. Ia merupakan praktisi kebugaran dengan gelar B.Med.Sc, P.G.Dip.SEM, SpKO. Saran yang disampaikan berfokus pada respons awal ketika kram terjadi: menghentikan aktivitas sejenak, melakukan peregangan secara perlahan pada bagian yang terdampak, dan mengevaluasi kondisi atlet.

Urutan ini juga menempatkan kondisi pelari sebagai perhatian utama, bukan ketersediaan produk semprot. Ketika rasa kram muncul, pelari sebaiknya tidak langsung menyamakan rasa dingin dengan pemulihan. Evaluasi tetap diperlukan sebelum aktivitas dilanjutkan. Maria tidak menyebut cooling spray sebagai cara untuk memastikan otot telah pulih.

Spray anti-inflamasi punya fungsi berbeda

Produk yang biasa digunakan pada pelari yang mengalami kram, menurut Maria, umumnya berupa spray anti-inflamasi topikal. Produk jenis ini dapat dibeli di apotek maupun melalui e-commerce. Namun, nama dan bentuk produk yang sama-sama berupa semprotan tidak berarti seluruhnya memiliki fungsi yang serupa.

Maria menjelaskan, spray yang mengandung obat anti-inflamasi nonsteroid atau NSAID dapat membantu mengurangi nyeri pada kondisi muskuloskeletal tertentu, misalnya keseleo atau cedera otot ringan. Manfaat itu berkaitan dengan efek anti-inflamasi dari obat di dalam produk. Bukan berarti semprotan tersebut dapat menghentikan kontraksi otot yang sedang kram.

Perbedaan tersebut penting dipahami sebelum produk digunakan. Mengurangi rasa nyeri pada kondisi tertentu dan menghentikan kram merupakan dua klaim manfaat yang berbeda. Ketersediaan produk yang mudah dibeli juga tidak otomatis menjawab apakah produk itu tepat untuk setiap keluhan yang muncul saat berlari. Dalam penjelasan Maria, manfaat spray anti-inflamasi tidak bisa disamakan dengan kemampuan mengatasi kram.

Jangan gunakan spray untuk memaksakan lomba

Risiko lain muncul ketika spray dipakai untuk menutupi nyeri agar pelari dapat meneruskan lomba. Maria mengingatkan, tindakan itu dapat membuat cedera tidak teridentifikasi dengan baik. Rasa nyeri yang berkurang belum tentu berarti masalah pada tubuh telah selesai, sehingga pelari perlu menghindari keputusan untuk langsung memaksakan diri hanya karena keluhan terasa lebih ringan.

Bagi pelari, langkah yang disarankan tetap sederhana: hentikan aktivitas sementara saat kram terjadi, lakukan peregangan statis perlahan pada otot yang mengalami kram, lalu evaluasi kondisi. Jika tim medis tersedia, kondisi atlet dapat dinilai sebelum ada keputusan untuk kembali beraktivitas. Cooling spray tidak semestinya menggantikan proses tersebut.

Dengan demikian, pelari tidak perlu panik semata-mata karena tim medis kehabisan spray ketika betis mulai terasa kencang. Berdasarkan keterangan Maria, penanganan awal tidak bergantung pada semprotan. Fokusnya adalah memberi jeda, meregangkan otot secara perlahan, dan memastikan kondisi pelari telah dievaluasi sebelum aktivitas diteruskan.

Beritakita