Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut gejolak sentimen terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) sebagai riak di pasar keuangan yang tidak mengganggu perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Pernyataan itu disampaikan seusai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Airlangga menilai perkembangan di pasar modal perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Menurut dia, penilaian terhadap ekonomi nasional tidak semestinya hanya bertumpu pada satu lembaga atau penyedia indeks, sebab lembaga pemeringkat lain juga memiliki penilaian terhadap Indonesia.
“Memang dari segi sentimen, seperti yang kemarin dibahas, ada riak-riak seperti MSCI. Tetapi, kan, itu bukan sesuatu yang mengganggu secara keseluruhan dan banyak rating agensi lain juga bisa menilai perekonomian kita,” ujar Airlangga.
MSCI sebelumnya menyatakan bursa saham Indonesia berpeluang turun status dari emerging market menjadi standalone market. Isu tersebut memicu perhatian terhadap pasar saham domestik. Namun, Airlangga menegaskan bahwa dinamika itu bukan gambaran tunggal untuk mengukur kondisi perekonomian Indonesia.
IHSG kembali ke zona hijau setelah gejolak
Pemerintah, kata Airlangga, telah berupaya menenangkan pasar. Pada Rabu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,94 persen ke level 5.328,36. Penguatan itu menjadi salah satu perkembangan yang ia soroti saat menjelaskan kondisi pasar setelah munculnya sentimen terkait MSCI.
Airlangga juga menyebut nilai tukar rupiah mulai melandai. Ia tidak merinci angka pergerakan rupiah, tetapi mengatakan kondisinya tidak berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Pernyataan tersebut disampaikan bersamaan dengan penilaiannya bahwa pasar saham pada hari itu telah kembali berada di jalur positif.
Pergerakan indeks dan nilai tukar menjadi bagian dari gambaran yang digunakan pemerintah untuk memantau respons pasar. Airlangga menyatakan kebijakan yang dikeluarkan otoritas telah sesuai dengan keinginan investor. Pemerintah, lanjutnya, menjaga komunikasi dan koordinasi lintas kementerian serta lembaga untuk merawat kepercayaan pasar.
Meski demikian, pernyataan pemerintah tidak menghapus perhatian terhadap sentimen yang berkembang. Airlangga menempatkan isu MSCI sebagai salah satu dinamika pasar keuangan, bukan satu-satunya ukuran untuk membaca perekonomian. Ia juga mengingatkan bahwa sejumlah lembaga lain dapat memberikan penilaian berbeda terhadap kondisi Indonesia.
Pemerintah jaga kepercayaan dan akses pasar
Upaya pemerintah menghadapi ketidakpastian tidak terbatas pada pasar saham. Airlangga menyebut Indonesia telah menjalin Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat dan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dengan Uni Eropa.
Menurut Airlangga, kerja sama tersebut membuka akses pasar yang lebih luas di tengah situasi internasional yang tidak menentu. Ia menekankan pentingnya hubungan dagang dengan mitra luar negeri sebagai bagian dari langkah Indonesia menghadapi perubahan kondisi global.
Airlangga juga meminta pelaku usaha dan pemangku kepentingan bekerja sama menghadapi ketidakpastian. Ia memperkirakan situasi geopolitik masih akan berlanjut hingga tahun depan. Karena itu, pemerintah menilai koordinasi dan upaya menjaga kepercayaan pasar tetap diperlukan.
Di dalam negeri, pemerintah turut menyiapkan anggaran sekitar Rp 31,8 triliun untuk mendukung sejumlah program hingga akhir 2026. Informasi mengenai alokasi tersebut disampaikan dalam konteks langkah pemerintah menjaga perekonomian dan menjalankan program yang telah disiapkan.
Sentimen pasar bukan satu-satunya tolok ukur
Pernyataan Airlangga menegaskan posisi pemerintah bahwa reaksi pasar terhadap isu MSCI perlu dibedakan dari penilaian menyeluruh atas ekonomi nasional. MSCI menjadi sorotan karena kemungkinan perubahan status pasar saham Indonesia, tetapi keputusan atau pandangan satu lembaga tidak serta-merta mewakili seluruh penilaian terhadap perekonomian.
Di sisi lain, perkembangan IHSG dan rupiah tetap menjadi perhatian karena keduanya mencerminkan respons pasar terhadap berbagai informasi dan kebijakan. Pemerintah menyatakan akan terus menenangkan pasar melalui koordinasi, sementara kerja sama dagang dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa disebut sebagai bagian dari upaya memperluas akses di tengah ketidakpastian.
Ke depan, perkembangan sentimen MSCI dan respons pasar masih akan menjadi hal yang dipantau. Pemerintah berharap pelaku usaha dan pemangku kepentingan dapat menjaga kerja sama menghadapi dinamika global, sembari melihat kondisi ekonomi Indonesia dari beragam indikator dan penilaian.