Berita Untuk Kita dan Semua Hari Ini

Lingkungan

Kabut Asap Karhutla RI Picu Sekolah Tutup di Malaysia

Kabut asap yang dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia memperburuk kualitas udara di Singapura dan Malaysia pada pekan kedua Oktober 2026. Ratusan sekolah di sejumlah wilayah Malaysia menghentikan kegiatan belajar tatap muka, sementara otoritas Singapura meminta warga memantau polusi sebelum beraktivitas di luar ruangan.

Pada Rabu, 7 Oktober, data IQAir menempatkan Singapura sebagai kota dengan polusi udara tertinggi di dunia. Kualitas udaranya masuk kategori sangat tidak sehat. Kuala Lumpur, yang sebelumnya berada di posisi teratas, turun ke peringkat kedua.

Kondisi belum membaik dua hari kemudian. Pada Jumat, 9 Oktober pukul 10.00 waktu setempat, indeks PSI 24 jam di pusat Singapura mencapai 173—angka tertinggi pada musim kabut asap saat itu. Sejumlah wilayah lain mencatat PSI antara 117 dan 166, masuk kategori tidak sehat.

Sekolah di Malaysia beralih ke pembelajaran dari rumah

Dampak kabut asap juga terasa di Malaysia. Pada Jumat pagi, kualitas udara di sebagian besar wilayah negara itu berada dalam kategori tidak sehat. Pemerintah memerintahkan seluruh sekolah dasar dan menengah di Selangor, Melaka, serta Negeri Sembilan ditutup.

Data Departemen Lingkungan Hidup Malaysia pada pukul 08.30 menunjukkan 38 dari 68 stasiun pemantau mencatat Indeks Pencemar Udara (API) antara 101 dan 200. Angka tersebut tergolong tidak sehat. Tujuh stasiun bahkan melaporkan indeks di atas 180, mendekati ambang kategori sangat tidak sehat.

Seremban, Negeri Sembilan, mencatat API tertinggi, yakni 186. Bandaraya Melaka menyusul dengan 184, sementara Nilai, Bukit Rambai, dan Segamat masing-masing mencatat 183. Johan Setia di Selangor berada pada angka 182, sedangkan Tangkak di Johor mencatat 181.

Kementerian Pendidikan Malaysia menetapkan kegiatan belajar di wilayah dengan API di atas 180 harus dihentikan dan dialihkan ke pembelajaran dari rumah. Sekolah di distrik dengan indeks di atas 150 selama tiga hari berturut-turut juga dijadwalkan tutup mulai Senin, 12 Oktober.

Direktur Jenderal Pendidikan Malaysia, Datuk Mohd Azam Ahmad, mengatakan penutupan dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk melindungi siswa dan tenaga pendidik dari paparan partikel berbahaya. Sebelumnya, sekitar 200 sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak di Distrik Batu Pahat, Johor, juga diperintahkan tutup pada Rabu.

Singapura imbau warga membatasi aktivitas luar ruangan

Di Singapura, Badan Lingkungan Nasional (NEA) meminta warga memeriksa kadar PM2.5 setiap jam jika hendak beraktivitas di luar. Ketika konsentrasi PM2.5 meningkat, orang sehat disarankan mengurangi kegiatan luar ruangan yang berat selama satu jam berikutnya.

Lansia, anak-anak, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru kronis dianjurkan menghindari aktivitas berat di luar ruangan. NEA menggolongkan PSI 24 jam pada rentang 101–200 sebagai tidak sehat, 201–300 sebagai sangat tidak sehat, dan di atas 300 sebagai berbahaya.

Dalam pengumuman Kamis malam, NEA menyebut kepulan asap sedang hingga tebal dari Sumatra bagian selatan dan tengah serta Kalimantan Barat terpantau bergerak menuju Singapura. Angin dari tenggara atau selatan berpotensi membawa kabut asap ke negara kota tersebut. Lembaga itu memperkirakan PSI berada pada kisaran sedang hingga agak tidak sehat.

Cuaca kering memperbesar risiko kabut asap lintas batas

NEA memperkirakan cuaca kering bertahan selama beberapa hari di sebagian besar Asia Tenggara bagian selatan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran dan kabut asap lintas batas. Di Malaysia, Departemen Lingkungan Hidup mengaitkan pencemaran udara dengan cuaca kering berkepanjangan serta ratusan titik api di Sumatra dan Kalimantan.

Di Indonesia, jumlah titik panas pada bulan sebelumnya mencapai angka tertinggi sejak 2015, menurut platform pemantauan kebakaran Kementerian Kehutanan, SiPongi. Kebakaran disebut dipicu praktik pembukaan lahan dengan cara tebang dan bakar, lalu diperparah kondisi kering yang berkaitan dengan fenomena El Niño.

Greenpeace mengidentifikasi lebih dari 20 perusahaan kelapa sawit, pulp, dan gula yang konsesinya mencakup area sumber asap kebakaran. Sebagian perusahaan tersebut diketahui memiliki keterkaitan dengan Malaysia dan Singapura.

Kabut asap juga menjadi perhatian penyelenggara Formula 1 di Singapura. Singapore GP Pte Ltd menyatakan akan bekerja sama dengan lembaga terkait untuk menilai dampak terhadap jarak pandang, kesehatan masyarakat, dan operasional sebelum mengambil keputusan bersama jika diperlukan. Juru bicara Formula 1 mengatakan kondisi saat itu belum mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Dengan cuaca kering diperkirakan berlanjut dan kualitas udara masih buruk di sejumlah wilayah, pemantauan titik api serta perlindungan kelompok rentan menjadi penting. Perkembangan kabut asap dalam beberapa hari berikutnya akan menentukan langkah lanjutan otoritas dan penyelenggara acara di kawasan tersebut.

Beritakita