Chip Merah Putih belum memasuki tahap produksi fisik. Pengembangan yang berjalan kini berpusat pada penyiapan kemampuan desain, riset semikonduktor, dan tenaga ahli, sebelum pemerintah menentukan kelanjutan menuju fabrikasi.
Upaya tersebut mulai terlihat lewat fasilitas Sandbox Desain Chip Merah Putih yang diluncurkan Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) pada 27 Juli 2026. Platform digital ini memberi kesempatan kepada mahasiswa, peneliti, perusahaan rintisan, dan pelaku industri untuk mencoba merancang chip tanpa perlu lebih dulu membiayai pembuatan fisiknya.
Menurut laporan CNN Indonesia dan Antara, pemerintah kini menyiapkan ekosistem yang melibatkan kementerian, badan usaha milik negara, serta perguruan tinggi. Tantangannya bukan sekadar merancang sebuah komponen, melainkan membangun kemampuan yang selama ini terbatas oleh minimnya tenaga ahli dan akses ke fasilitas praktik.
Sandbox membuka akses belajar desain chip
Fasilitas Peruri itu berada di Gedung Subono Mantofani, kantor perusahaan tersebut di Jakarta. Pengguna dapat mengakses lingkungan eksperimen melalui peramban web secara gratis. Dengan begitu, tahap awal pembelajaran dan pengujian desain tidak harus langsung bergantung pada perangkat mahal atau produksi chip.
Chip memiliki fungsi yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari maupun layanan pemerintah. Komponen itu digunakan dalam perangkat elektronik dan layanan digital, termasuk paspor elektronik, kartu identitas, serta kartu pembayaran. Keamanan informasi yang tersimpan di dalam perangkat atau dokumen elektronik juga berkaitan dengan teknologi chip yang digunakan.
Peruri mengarahkan fasilitas tersebut untuk memperluas kemampuan perancangan di dalam negeri. Direktur Utama Peruri Teguh Arief Indratmoko menyampaikan bahwa penguasaan desain chip dapat mendukung perlindungan data strategis, sekaligus mengurangi kebutuhan devisa dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai semikonduktor global.
Masih ada jarak antara belajar merancang dan menghasilkan chip. Karena itu, sandbox lebih tepat dipahami sebagai sarana membangun keterampilan serta menguji gagasan, bukan sebagai fasilitas produksi semikonduktor.
Mahasiswa dan kampus mulai dilibatkan
Pemanfaatan awal platform itu terlihat dalam kegiatan hackathon yang diikuti 98 tim dari 41 perguruan tinggi. Jumlah peserta yang tercatat mencapai 338 mahasiswa. Kegiatan tersebut memberi ruang bagi peserta untuk berlatih menggunakan fasilitas desain, sementara pemerintah berupaya memperluas keterlibatan kampus dalam proyek nasional ini.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menekankan perlunya pengembangan yang terarah, termasuk dalam menyiapkan desain, riset, serta sumber daya manusia. Dalam pembahasan pada Senin, 2 November 2026, ia menyebut Badan Pengelola BUMN telah menyampaikan kesiapan untuk mengajukan izin prakarsa. Pemerintah juga hendak memeriksa hal-hal yang masih perlu dilengkapi.
Brian menyebut sasaran sebelumnya adalah agar proses masuk tahap harmonisasi paling lambat 11 November. Tahap tersebut berkaitan dengan penataan usulan dan koordinasi kebijakan, bukan penanda bahwa chip nasional sudah siap diproduksi.
Di sisi riset, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Fauzan Adziman menyampaikan bahwa salah satu program penelitian semikonduktor bersama kampus ditargetkan rampung pada Mei 2028. Hasil penelitian itu diharapkan menjadi dasar bagi pengembangan kemampuan desain chip nasional.
Fabrikasi masih menjadi tahap lanjutan
Peta jalan proyek akan mempertimbangkan jenis chip yang layak dikembangkan, baik dari sisi teknis maupun ekonomi. Cakupannya berpotensi meluas dari desain menuju fabrikasi, yakni proses membuat chip secara fisik. Namun, informasi yang disampaikan pemerintah sejauh ini masih menempatkan pembangunan ekosistem dan kapasitas riset sebagai pekerjaan utama.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menilai semikonduktor merupakan komoditas strategis dalam persaingan teknologi dunia. Kebutuhan chip juga berkaitan dengan rencana pembangunan pusat data kecerdasan buatan nasional, yang memerlukan komponen semikonduktor dalam jumlah besar. Karena itu, pengembangan industri chip tidak hanya menyentuh kemampuan teknis, tetapi juga kebutuhan industri dan arah kebijakan.
Sejumlah pekerjaan masih menanti, mulai dari koordinasi antarlembaga hingga penyusunan kerangka kebijakan. Pemerintah juga harus memastikan ketersediaan tenaga ahli dan menentukan jalur pengembangan yang sesuai dengan kemampuan nasional. Untuk saat ini, tanda kemajuan paling nyata adalah terbukanya fasilitas belajar desain, keterlibatan mahasiswa, dan berlangsungnya riset yang ditargetkan selesai pada 2028.