Berita Untuk Kita dan Semua Hari Ini

Ekonomi

Dividen Antam Diproyeksi Tembus Yield 10 Persen

Potensi dividen PT Aneka Tambang Tbk atau Antam (ANTM) diperkirakan melampaui 10 persen, meski besaran pembagian untuk pemegang saham belum menjadi keputusan yang diumumkan perusahaan. Sejumlah sekuritas menilai laba dan arus kas yang kuat dapat membuka ruang bagi Antam untuk memberikan dividen besar. Perkiraan itu muncul saat saham-saham di Bursa Efek Indonesia menghadapi tekanan dan investor mencermati gejolak pasar terkait MSCI.

CNBC Indonesia melaporkan, JP Morgan memasukkan ANTM ke dalam saham pilihannya dengan rekomendasi overweight. Bank investasi tersebut menilai valuasi saham Antam relatif murah dan potensi imbal hasil dividennya menarik. Berdasarkan proyeksi 2027, JP Morgan menghitung price to earnings ratio ANTM sekitar empat kali dan dividend yield sebesar 14 persen. Target harga yang dipasang adalah Rp4.700.

Angka yield tersebut merupakan estimasi, bukan kepastian hasil yang akan diterima pemegang saham. Besaran dividen aktual bergantung pada keputusan perusahaan, sementara persentase imbal hasil juga berkaitan dengan harga saham yang menjadi dasar perhitungan. Karena itu, proyeksi antar-sekuritas perlu dibaca sebagai skenario dengan asumsi masing-masing, bukan janji pembagian.

Proyeksi sekuritas berbeda, sama-sama di atas 10 persen

Indo Premier Sekuritas memperkirakan yield dividen ANTM mencapai 12,3 persen pada 2027 dan 12,7 persen pada tahun berikutnya. Sekuritas itu memberi rekomendasi buy dengan target harga Rp3.700. Dalam risetnya, Indo Premier memandang emiten komoditas berpeluang mencatat kinerja lebih baik dibanding pasar saham secara umum, antara lain karena pendapatannya memiliki keterkaitan dengan dolar Amerika Serikat.

Penilaian tersebut hadir saat saham ANTM, PGAS, dan TINS disebut sebagai sejumlah saham yang mengalami tekanan harga. Indo Premier menilai pelemahan itu berpotensi membuka peluang pembelian, termasuk bagi investor yang mempertimbangkan imbal hasil dividen. Namun, peluang harga dan dividen tetap disertai risiko perubahan pasar. Proyeksi yield yang tinggi tidak dengan sendirinya memastikan harga saham naik atau pembagian dividen terjadi sesuai perkiraan.

Sucor Sekuritas menggunakan pendekatan berbeda. Perusahaan diperkirakan dapat menghasilkan arus kas bebas Rp9 triliun hingga Rp10 triliun per tahun selama tiga tahun ke depan, dengan belanja modal tahunan sekitar Rp1,5 triliun. Jika rasio pembayaran dividen berada di 65 persen, yield ANTM diperkirakan mencapai 10 persen. Sucor menetapkan target harga Rp5.500, sedangkan harga terakhir yang dicantumkan dalam laporan adalah Rp2.620.

Laba dan kas Antam menguat hingga September

Optimisme para analis bertumpu pada kinerja keuangan Antam sampai September 2026. Perusahaan membukukan laba bersih Rp9,66 triliun, tumbuh 46 persen dibanding periode yang sama menurut laporan tersebut. EBITDA naik 45 persen menjadi Rp13,48 triliun, sementara pendapatan meningkat 23 persen menjadi Rp88,48 triliun.

Posisi keuangan perseroan juga bertambah kuat. Total aset per September tercatat Rp59,74 triliun, naik 24 persen, dan ekuitas mencapai Rp41,22 triliun setelah tumbuh 17 persen. Kas serta setara kas berada di angka Rp10,54 triliun, meningkat 14 persen. Kenaikan laba dan ketersediaan kas ini menjadi dasar bagi sekuritas untuk memperkirakan ruang pembagian kepada pemegang saham.

Arus kas bersih dari kegiatan operasi mencapai Rp5,06 triliun, naik 26 persen. Penerimaan kas dari pelanggan tercatat Rp87,92 triliun, tumbuh 29 persen, sejalan dengan peningkatan penjualan dan pengelolaan modal kerja yang dinilai efektif. Sucor memperkirakan arus kas bebas yang berpotensi terbentuk dalam beberapa tahun ke depan dapat menopang investasi sekaligus pengembalian kepada pemegang saham.

Investor perlu membedakan estimasi dan keputusan

Rentang target harga yang diberikan tiga sekuritas cukup lebar, dari Rp3.700 hingga Rp5.500, sementara perkiraan yield berkisar 10 persen sampai 14 persen berdasarkan asumsi yang berbeda. JP Morgan menyoroti valuasi dan paparan pendapatan Antam terhadap dolar AS. Indo Premier menekankan prospek emiten komoditas, sedangkan Sucor mengaitkan potensi dividen dengan arus kas bebas dan rasio pembayaran.

Bagi investor, angka-angka itu memberi gambaran tentang alasan ANTM tetap diperhatikan saat pasar bergejolak, tetapi belum menggantikan informasi resmi mengenai dividen. Perkembangan yang perlu dicermati berikutnya adalah keputusan perusahaan mengenai pembagian laba serta kinerja keuangan periode selanjutnya. Sampai ada pengumuman tersebut, yield di atas 10 persen tetap berada pada ranah proyeksi analis.

Beritakita