Berita Untuk Kita dan Semua Hari Ini

Ekonomi

Pemulihan IHSG Usai Tekanan MSCI Masih Menanti

Penurunan IHSG sebesar 43 persen dalam episode MSCI 2026 belum memberi petunjuk pasti kapan indeks saham Indonesia kembali ke puncak sebelumnya. Pengalaman dari gejolak pasar terdahulu menunjukkan durasi pemulihan sangat beragam, mulai dari 12 bulan hingga lebih dari enam tahun.

Riset Danareksa Investment Management Indonesia yang disampaikan BRIDS, seperti dikutip Investor.id pada Selasa, 27 Oktober 2026, menempatkan tekanan MSCI di atas dampak sejumlah peristiwa pasar besar dalam beberapa dekade terakhir. Meski begitu, koreksinya belum sedalam yang terjadi saat krisis keuangan global maupun krisis Asia.

Episode MSCI belum mencatat waktu pemulihan

Dalam catatan riset tersebut, koreksi IHSG pada episode MSCI 2026 telah berlangsung selama sembilan bulan. Periode itu masih berjalan, sehingga belum bisa dipakai untuk menentukan berapa lama indeks akan membutuhkan waktu untuk kembali ke posisi puncak sebelum tekanan.

Danareksa menilai tekanan kali ini bersifat institusional. Dengan karakter seperti itu, pemulihan pasar berpeluang berlangsung bertahap dan kecepatannya akan bergantung pada respons kebijakan. Kedalaman penurunan saja tidak cukup untuk memperkirakan kapan indeks pulih.

“Pemulihan ditentukan oleh katalis kebijakan, bukan oleh kedalaman koreksi,” demikian catatan Danareksa Investment Management Indonesia dalam riset tersebut.

Perbandingan historis memperlihatkan bahwa koreksi besar tidak selalu diikuti pemulihan yang sama panjang. IHSG turun 38 persen ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020, lalu mencatat masa pemulihan 12 bulan. Sementara itu, penurunan 24 persen saat taper tantrum 2013 membutuhkan 16 bulan sampai indeks kembali ke puncaknya.

Perang dagang dan krisis memberi pembanding

Tekanan akibat perang dagang pada 2018 membuat IHSG terkoreksi 14 persen. Namun, indeks memerlukan 45 bulan untuk kembali mencapai puncak sebelumnya. Danareksa memberi catatan bahwa proses itu turut terganggu pandemi Covid-19, sehingga lamanya pemulihan tidak semata-mata mencerminkan dampak perang dagang.

Pada 2015, pergeseran kebijakan memicu koreksi 25 persen dan pemulihan berlangsung selama 23 bulan. Adapun krisis keuangan global 2008 menekan IHSG hingga 61 persen, tetapi indeks kembali ke puncak dalam 27 bulan menurut data yang dikutip dalam riset.

Penurunan terdalam dalam perbandingan itu terjadi saat krisis Asia 1997–1998. IHSG merosot 65 persen dan membutuhkan 79 bulan untuk pulih. Data tersebut memperlihatkan rentang waktu pemulihan yang lebar, bahkan pada peristiwa dengan koreksi yang sama-sama tajam.

Jika dilihat dari besar koreksi, episode MSCI 2026 berada di atas tekanan perang dagang, taper tantrum, pergeseran kebijakan 2015, dan pandemi. Namun, penurunannya masih lebih kecil daripada koreksi pada krisis global 2008 serta krisis Asia. Perbandingan itu memberi konteks, bukan kepastian tentang jalur indeks berikutnya.

Valuasi turun, seleksi saham tetap diperlukan

Di tengah tekanan, riset Danareksa mencatat valuasi IHSG berada pada tingkat yang dinilai semakin menarik. Rasio forward price-to-earnings berada di kisaran 6,5 hingga 7 kali. Rasio price-to-book tercatat 1,29 kali, sedangkan potensi imbal hasil dividen berada di sekitar 7 persen.

Angka valuasi tersebut membuka ruang bagi akumulasi saham secara selektif, menurut Danareksa. Riset itu menekankan perhatian pada perusahaan dengan fundamental kuat, laba yang dapat tumbuh berkelanjutan, serta rekam pembagian dividen yang konsisten. Rekomendasi tersebut tidak menghapus ketidakpastian mengenai waktu pemulihan indeks.

Untuk saat ini, durasi sembilan bulan pada episode MSCI belum dapat dibandingkan dengan angka pemulihan final dalam catatan historis. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada katalis kebijakan dan respons yang diberikan, sementara proses tekanan pasar masih berlangsung.

Beritakita