RS Mandaya Royal Puri di Tangerang, Banten, meluncurkan Limfedema Center yang menyediakan teknologi untuk mendeteksi dan menangani pembengkakan pada lengan atau kaki akibat penumpukan cairan getah bening. Layanan ini ditujukan bagi pasien maupun penyintas kanker payudara, terutama mereka yang mengalami komplikasi setelah menjalani pengobatan.
Peluncuran dilakukan bertepatan dengan peringatan Breast Cancer Awareness Month atau Bulan Kesadaran Kanker Payudara. Kehadiran pusat layanan tersebut melengkapi layanan kanker payudara di rumah sakit itu, yang mencakup deteksi dini, diagnosis, pengobatan, hingga rekonstruksi payudara.
Public Relation Manager Mandaya Hospital Group Erwin Suyanto mengatakan teknologi baru itu dirancang untuk membantu mendeteksi limfedema pada pasien kanker payudara pascamastektomi. Menurut dia, layanan tersebut didukung tim dokter yang memiliki pengalaman menangani kondisi terkait.
“Kami menghadirkan teknologi guna mendeteksi adanya bengkak limfedema pada pasien kanker payudara pasca-mastektomi. Didukung tim dokter berpengalaman seperti dr. Sara yang menguasai teknik bypass limfatik dan transplantasi kelenjar limfe, layanan BRAVE menjadi sangat komprehensif,” kata Erwin.
Limfedema dapat muncul setelah pengobatan kanker
Limfedema merupakan pembengkakan yang terjadi ketika cairan getah bening menumpuk. Dalam keterangan dokter RS Mandaya, kondisi ini dapat berhubungan dengan pengangkatan kelenjar getah bening, operasi kanker payudara, maupun terapi radiasi.
Dr. Sara Ester Triatmoko, dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik dengan subspesialis bedah mikro dan onkoplasti di Mandaya Royal Hospital Puri, menyebut limfedema bukan kondisi yang jarang. Ia mengatakan lebih dari 140 juta orang di seluruh dunia hidup dengan limfedema.
Sara juga menyampaikan bahwa 98 persen kasus limfedema lengan di negara maju terjadi setelah pengobatan kanker payudara. Angka tersebut menggambarkan keterkaitan yang perlu diperhatikan pasien dan penyintas, meski kondisi dan penanganan setiap orang dapat berbeda.
Pembengkakan pada lengan atau kaki menjadi salah satu komplikasi yang dapat muncul setelah rangkaian perawatan kanker. Karena itu, pusat layanan baru ini diarahkan untuk memberi akses penanganan bagi pasien yang mengalami masalah tersebut, sekaligus melengkapi layanan kanker payudara dalam satu pusat pelayanan.
Bypass limfatik dan transplantasi kelenjar limfe
Tim yang mendukung Limfedema Center mencakup dokter dengan keahlian bypass limfatik dan transplantasi kelenjar limfe. Dua teknik itu disebut Erwin sebagai bagian dari layanan komprehensif yang disediakan rumah sakit. Informasi yang disampaikan rumah sakit tidak merinci jenis teknologi deteksi yang digunakan maupun tahapan pemeriksaan bagi pasien.
Sara mengatakan penanganan limfedema dapat dilakukan melalui beragam bentuk tindakan. Ia mencontohkan praktik operasi limfedema di Jepang dan Korea Selatan yang, menurutnya, dapat dilakukan dengan bius lokal dan memungkinkan pasien pulang pada hari yang sama. Ia berharap kualitas hidup pasien dapat membaik melalui penanganan yang tersedia.
Penjelasan tersebut memberi gambaran bahwa penanganan limfedema tidak terbatas pada satu pendekatan. Namun, jenis tindakan yang sesuai tetap berkaitan dengan kondisi pasien. Pusat layanan di Mandaya ditujukan untuk membantu pasien maupun penyintas kanker payudara memperoleh penanganan atas komplikasi pembengkakan.
Bagian dari layanan kanker payudara terpadu
Di luar Limfedema Center, Mandaya Royal Puri juga menyampaikan layanan lain dalam rangkaian perawatan kanker payudara. Erwin mengatakan rumah sakit telah menghadirkan teknologi HIFU atau High-Intensity Focused Ultrasound untuk menangani tumor payudara jinak tanpa sayatan maupun luka.
Rumah sakit menyebut rangkaian layanan kanker payudaranya mencakup deteksi dini, diagnosis, pengobatan, dan rekonstruksi. Dengan layanan yang terhimpun dalam satu pusat, pasien dapat memperoleh beberapa tahapan penanganan di tempat yang sama.
Dalam kegiatan peluncuran, penyintas kanker payudara yang tergabung dalam komunitas Cancer Information & Support Center (CISC) Indonesia turut membagikan pengalaman dan mengedukasi masyarakat tentang risiko limfedema setelah terapi. Keterlibatan komunitas itu memperluas pembahasan dari sisi layanan medis ke pengalaman mereka yang menjalani perawatan.
Peluncuran pusat khusus ini menambah pilihan layanan bagi pasien dan penyintas kanker payudara yang mengalami pembengkakan setelah pengobatan. Informasi mengenai limfedema dan pilihan penanganannya dapat menjadi bekal untuk berdiskusi dengan tenaga medis ketika pasien menghadapi komplikasi tersebut.