Berita Untuk Kita dan Semua Hari Ini

Nasional

Sulsel Terima 150 Ribu Dosis Vaksin Flu Burung

Kementerian Pertanian menyalurkan 150 ribu dosis vaksin flu burung untuk memperkuat perlindungan unggas di Sulawesi Selatan. Vaksin Avian Influenza (AI) itu tiba pada Minggu, 11 Oktober 2026, dan diterima Dinas Peternakan Provinsi Sulawesi Selatan sebagai tahap awal dari total 300 ribu dosis yang disiapkan.

Pengiriman vaksin dilakukan di tengah penanganan kasus AI di Kabupaten Sinjai. Pemerintah pusat dan daerah juga menyiapkan dukungan obat-obatan serta vitamin untuk membantu petugas di lapangan. Jumlah vaksin dapat ditambah berdasarkan perkembangan situasi dan permintaan pemerintah provinsi.

Dukungan ini ditujukan untuk melindungi unggas yang masih sehat sekaligus menjaga keberlangsungan usaha peternakan rakyat. Sinjai menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian setelah pemeriksaan laboratorium mengonfirmasi adanya AI pada sampel unggas terdampak.

Vaksinasi flu burung disesuaikan dengan kebutuhan lapangan

Direktur Kesehatan Hewan Kementan Hendra Wibawa mengatakan pengendalian AI membutuhkan kerja bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, petugas kesehatan hewan, dan peternak. Vaksinasi menjadi bagian dari upaya tersebut, tetapi perlu disertai pemeriksaan yang tepat, penerapan biosekuriti, serta pemantauan kondisi di lapangan.

Dalam rapat koordinasi pada Jumat, 9 Oktober 2026, tercatat 3.763 ekor unggas mati di lima kecamatan di Kabupaten Sinjai. Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel sebelumnya telah mengonfirmasi AI. Data jumlah kematian dan wilayah terdampak terus diperbarui untuk membantu petugas menentukan prioritas pemeriksaan serta penanganan.

Penyaluran awal 150 ribu dosis bukan berarti seluruh vaksin langsung diberikan tanpa pemetaan. Kementan menyatakan dukungan dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Langkah ini penting agar pelaksanaan vaksinasi mengikuti rekomendasi teknis dan perkembangan situasi di setiap wilayah.

Pemeriksaan laboratorium dan dukungan untuk petugas

Kepala Balai Besar Veteriner Maros Dinar Hadi Wahyu Hartawan menyebut hasil laboratorium menjadi dasar dalam menentukan langkah pengendalian. “Konfirmasi laboratorium memberikan dasar ilmiah bagi langkah pengendalian di lapangan,” kata Dinar.

Untuk membantu kegiatan pemeriksaan, BBV Maros memberikan lima dus disinfektan, alat pelindung diri, serta peralatan pengambilan sampel unggas mati. Dukungan itu diharapkan menunjang petugas saat memeriksa unggas terdampak dan mengambil sampel di Kabupaten Sinjai.

BBV Maros bersama BBV Wates juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan melalui isolasi virus dan karakterisasi genetik. Pemeriksaan tersebut diharapkan menghasilkan informasi tambahan bagi penentuan langkah teknis berikutnya. Sementara itu, pemetaan wilayah berisiko terus diperbarui seiring pengumpulan data di lapangan.

Peternak diminta memperketat biosekuriti kandang

Kementan dan pemerintah daerah mendorong peternak menerapkan biosekuriti secara konsisten. Langkah yang dianjurkan meliputi menjaga kebersihan kandang, membersihkan dan mendisinfeksi peralatan, membatasi lalu lintas unggas, serta memisahkan unggas yang sakit dari unggas sehat sesuai arahan petugas.

Peternak juga diminta segera melaporkan kematian unggas yang tidak wajar kepada Pusat Kesehatan Hewan atau dinas yang membidangi peternakan setempat. Unggas sakit tidak boleh dipindahkan maupun diperjualbelikan. Warga perlu menghindari kontak langsung dengan unggas yang sakit atau mati.

Pelaporan sejak dini membantu petugas melakukan pemeriksaan dan menentukan tindakan pencegahan yang diperlukan. Karena itu, pemantauan di tingkat peternakan menjadi bagian penting dari pengendalian, di samping vaksinasi dan pemeriksaan laboratorium.

Hendra mengajak peternak dan masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti arahan petugas kesehatan hewan. “Yang paling penting adalah masyarakat tetap tenang tetapi waspada,” ujarnya.

Kementan bersama pemerintah daerah dan instansi terkait akan terus memantau situasi dan menyesuaikan dukungan dengan kebutuhan. Kombinasi vaksinasi sesuai rekomendasi teknis, biosekuriti, pemeriksaan, dan pelaporan dini menjadi fokus untuk melindungi kesehatan unggas serta menjaga usaha peternakan di Sulawesi Selatan.

Beritakita