Berita Untuk Kita dan Semua Hari Ini

Ekonomi

Martha Tilaar Wafat, Warisan dan Pesan Bisnisnya

Pendiri Martha Tilaar Group dan sosok di balik merek kosmetik Sariayu, Martha Tilaar, meninggal dunia pada Rabu, 14 Oktober 2026, pukul 06.22 WIB. Ia mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan, dalam usia 89 tahun, setelah menjalani perawatan intensif.

Anak tertua Martha, Bryan Tilaar, mengatakan ibunya telah lama mengidap asma. Kondisinya menurun setelah mengalami komplikasi pendarahan, meski tim medis telah merawatnya selama delapan hari. Keluarga menyebut Martha wafat dengan tenang dalam tidurnya.

“Kondisi itu memang sudah terjadi 1,5 tahun yang lalu. Memang sudah waktunya,” kata Bryan saat ditemui di rumah duka di kawasan Patra Kuningan Utara, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Permintaan terakhir Martha Tilaar sebelum wafat

Jenazah Martha disemayamkan di kediaman keluarga di Jakarta Selatan. Keputusan itu sekaligus memenuhi permintaan terakhirnya: kembali ke rumah yang ia bangun bersama suaminya, Alex Tilaar, yang telah lebih dahulu meninggal dunia.

Sejak kabar duka tersebar, kerabat dan sahabat berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa. Bryan menyambut para pelayat. Rumah duka dihiasi bunga dan salib, sementara keluarga memberi kesempatan kepada mereka yang hadir untuk mendoakan Martha untuk terakhir kalinya.

Martha dijadwalkan dimakamkan di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat, pada Jumat, 16 Oktober 2026. Sebelum pemakaman, keluarga menggelar Misa Requiem atau Misa Arwah di rumah duka.

Pesan tentang Indonesia dan bisnis berdampak

Di masa-masa terakhirnya, Martha menitipkan pesan kepada anak-anak dan generasi muda. Ia berharap mereka mencintai Indonesia dan menjalankan usaha yang memberi manfaat bagi masyarakat, bukan semata-mata mengejar keuntungan komersial.

“Pesan-pesannya adalah marilah kita sama-sama mencintai Indonesia. Bahwa kita berbisnis itu harus berdampak pada sosial bukan hanya komersialisasi semata,” ujar Bryan, yang juga menjabat Direktur Utama PT Martina Berto Tbk.

Pesan itu sejalan dengan prinsip yang ia bawa sepanjang perjalanan bisnisnya: memajukan kecantikan Nusantara atau Indonesian Beauty. Martha mengembangkan produk dan usaha dengan bertumpu pada kekayaan alam Indonesia. Gagasan tersebut kemudian dirangkum dalam filosofi “Local Wisdom Go Global”.

Warisan Martha tidak hanya tercermin dalam merek yang dikenal luas, tetapi juga pada upayanya membawa nilai lokal ke dunia usaha. Ia membangun bisnis kecantikan yang berangkat dari pengetahuan dan bahan-bahan Indonesia, sekaligus menekankan pentingnya dampak sosial.

Dari salon kecil hingga Martha Tilaar Group

Perjalanan Martha sebagai pengusaha dimulai pada pertengahan 1969, setelah ia kembali dari Amerika Serikat. Dengan impian memanfaatkan kekayaan alam Indonesia, ia membuka salon sederhana berukuran 3 x 4 meter di ruang depan rumah orang tuanya di Jalan Tosari, Jakarta.

Usaha kecil itu berkembang menjadi PT Martina Berto dan kemudian menjadi bagian dari perjalanan Martha Tilaar Group. Di tengah pertumbuhan bisnis, Sariayu menjadi salah satu merek kosmetik yang lekat dengan namanya. Produk-produknya membawa gagasan kecantikan yang berakar pada budaya dan kekayaan Nusantara.

Perjalanan tersebut dibentuk oleh keteguhan yang ia pelajari sejak muda. Martha lahir di Kebumen pada 4 September 1937. Diagnosa pada masa kecil sempat membuat orang meragukan kemampuannya, tetapi dorongan ibunya, Herna Liem, serta prinsip hidup yang diajarkan ayahnya, Jacob Handana, menjadi bekal penting.

Prinsip JITU yang diwariskan sang ayah terdiri atas Jujur, Iman, Inovatif, Tekun, dan Ulet. Nilai-nilai itu kemudian menjadi bagian dari semangat Martha saat membangun usaha dan menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya.

Pemberdayaan perempuan menjadi bagian warisan

Kepedulian sosial Martha diwujudkan melalui pendirian pusat pelatihan terapis spa gratis bagi perempuan yang kurang berdaya. Upaya pemberdayaan tersebut mendapat pengakuan dari Global Compact Network, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, di New York.

Ia juga dikenal mengembangkan usaha yang berpijak pada kekayaan alam Indonesia. Dalam perjalanan pribadinya, Martha pernah menjalani terapi jamu tradisional dan kemudian dikaruniai keturunan. Kisah itu menjadi bagian dari kedekatannya dengan pengetahuan herbal yang juga mewarnai kiprahnya di bidang kecantikan.

Pemerintah Indonesia menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada Martha. Ia meninggalkan empat anak, yakni Bryan David Emil Tilaar, Pingkan Engelien Tilaar, Wulan Tilaar, dan Dr. Kilala Tilaar, serta sembilan cucu.

Kepergian Martha menutup perjalanan panjang seorang perintis bisnis kecantikan, tetapi pesan tentang kecintaan pada Indonesia dan tanggung jawab sosial tetap menjadi pegangan yang ia titipkan. Keluarga dan generasi penerus kini memikul tugas menjaga cita-cita tersebut, sekaligus meneruskan semangat pemberdayaan yang menjadi bagian penting dari warisannya.

Beritakita